Part 24 Hasil dari Penantian

Saking terkejutnya dengan kalimat yang Riris lontarkan, membuat Fadil hampir menyemburkan kopinya.

“Maksudnya gimana?” tanya Fadil lagi.

“Ternyata cuma kamu ngertiin aku, Dil. Mereka yang deketin aku, kadang nggak ngerti apa yang aku mau, dan aku merasa nggak senyaman kaya pas aku bareng kamu,” jawab Riris sambil menunduk.

“Apa kamu udah siap?” tanya Fadil meminta kepastian.

“Untuk?” Riris balik bertanya.

“Untuk menerima cintaku. Kamu tau kan kalau aku mencintaimu sejak dulu?” kata Fadil, matanya berbinar menunggu jawaban.

“Entah iya, atau nggak. Aku sebenarnya nggak tau, Dil. Tapi yang jelas, pas kamu nggak ada aku rindu, pas kamu ada aku nyaman.” Riris menunduk, akhirnya dia mengakui seberapa berharganya kehadiran Fadil.

Hasil dari Penantian

Fadil menggenggam tangan Riris lebih erat. Jantungnya berdebar kencang. Pengakuan Riris begitu berarti baginya. Ia telah menunggu momen ini begitu lama, menunggu Riris menyadari perasaannya yang sebenarnya. Meskipun masih ada keraguan di mata Riris, Fadil melihat secercah harapan, sebuah kesempatan untuk membangun sesuatu yang lebih berarti.

“Aku mengerti, Ris,” kata Fadil dengan suara lembut, suaranya sedikit bergetar karena emosi. “Aku nggak akan maksa kamu. Tapi aku ingin kamu tahu, perasaanku ini tulus. Aku akan selalu ada untukmu, apa pun keputusanmu.”

Riris mengangkat wajahnya, matanya menatap mata Fadil dengan penuh arti. Di sana, ia melihat ketulusan yang selama ini ia cari. Ketulusan yang berbeda dari yang pernah ia rasakan sebelumnya. Ketulusan yang membuatnya merasa aman dan nyaman.

Mereka terdiam sejenak, hanya suara musik jazz yang mengalun lembut di antara mereka. Suasana di kafe terasa begitu intim dan khusyuk. Udara di sekitar mereka seakan dipenuhi oleh perasaan yang tak terucapkan.

“Aku…,” Riris memulai, suaranya masih sedikit gemetar. Ia masih ragu, masih ada bayangan masa lalu yang menghantuinya. Namun, kehadiran Fadil memberinya kekuatan. Kehadiran Fadil memberinya rasa aman yang selama ini ia rindukan.

“Aku … aku butuh waktu,” lanjut Riris, suaranya terdengar lebih mantap. “Tapi … aku ingin mencoba.”

Senyum Fadil merekah lebar. Ia tidak mengharapkan jawaban yang lebih dari itu. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang. Masih banyak hal yang harus mereka lalui bersama. Tapi, ia bersyukur, Riris telah memberinya kesempatan.

Mereka menghabiskan sisa waktu mereka di kafe dengan saling berbagi cerita, menikmati kopi dan kue, dan saling menggenggam tangan. Tangan mereka saling bertaut, menyatukan dua hati yang telah lama terpisah, tapi kini kembali bersatu. Mata mereka saling menatap, mengungkapkan perasaan yang tak perlu diungkapkan dengan kata-kata.

Keesokan harinya, Riris dan Fadil kembali bertemu. Kali ini, mereka pergi ke taman kota. Mereka berjalan-jalan, berbicara tentang masa depan mereka, tentang mimpi-mimpi mereka.

Hari-hari berlalu, dan hubungan Riris dan Fadil semakin erat. Fadil selalu ada untuk Riris, memberikan dukungan dan perhatian yang Riris butuhkan. Riris pun mulai melupakan masa lalunya, dan fokus pada hubungannya dengan Fadil.

Beberapa bulan kemudian, Fadil memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Riris. Kali ini, Riris menjawab dengan penuh keyakinan. Ia mencintai Fadil, dan ia siap untuk membangun masa depan bersama dengannya.

Beberapa minggu kemudian, Fadil merasa sudah saatnya untuk melangkah lebih jauh. Ia ingin meminta restu dari Prasetyo, ayah Riris, untuk melamar putrinya. Namun, ia ingin melakukannya dengan cara yang lebih personal dan bermakna. Ia memutuskan untuk mengajak Riris berziarah ke makam Hadi, ayah Riris, sebelum meminta restu kepada Prasetyo.

Dengan hati berdebar, Fadil menyampaikan idenya kepada Riris. Riris awalnya terkejut, tapi kemudian ia setuju. Ia merasa bahwa berziarah ke makam ayahnya bersama Fadil akan menjadi momen yang sangat bermakna. Ini adalah kesempatan untuk mengenang ayahnya dan sekaligus memperkenalkan Fadil sebagai calon suami kepada sosok yang sangat penting dalam hidupnya.

Di hari yang telah ditentukan, Fadil menjemput Riris. Mereka berdua pergi ke pemakaman dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa haru, sedih, dan juga bahagia. Riris membawa sekuntum bunga lili putih, bunga kesukaan ayahnya.

Sesampainya di makam Hadi, Riris dan Fadil sama-sama merasa haru. Riris menata bunga lili putih di atas pusara ayahnya, mengucapkan doa dan mengenang masa-masa indah bersama ayahnya. Air mata Riris menetes, mengalir di pipinya. Fadil mengulurkan sapu tangannya, mengusap air mata Riris dengan lembut.

Setelah Riris selesai berdoa, Fadil berbicara dengan tenang dan tulus. Ia menceritakan tentang perasaannya kepada Riris, tentang niatnya untuk melamar putrinya, dan tentang komitmennya untuk selalu menjaga dan menyayangi Riris. Ia meminta restu kepada Hadi, agar hubungannya dengan Riris selalu diberkahi dan dipenuhi dengan kebahagiaan.

Riris mendengarkan Fadil dengan penuh perhatian. Ia merasa sangat tersentuh dengan kejujuran dan ketulusan Fadil. Ia merasa bahwa Fadil adalah orang yang tepat untuknya, orang yang mampu mengisi kekosongan di hatinya.

Setelah Fadil selesai berbicara, Riris memeluk Fadil erat-erat. Ia merasa sangat bahagia dan bersyukur. Ia merasa bahwa ayahnya pasti akan merestui hubungan mereka.

Mereka berdua duduk di dekat makam Hadi, saling berpegangan tangan. Mereka menikmati suasana tenang dan damai di pemakaman, sambil merenungkan arti kehidupan dan cinta. Mereka merasa lebih dekat satu sama lain setelah berziarah bersama. Mereka merasa bahwa hubungan mereka telah mendapatkan restu dari surga.

Setelah itu, mereka berdua pergi menemui Prasetyo. Fadil merasa lebih tenang dan mantap untuk meminta restu kepada Prasetyo setelah berziarah bersama Riris. Ia tahu bahwa Prasetyo akan melihat ketulusan hatinya dan restu dari surga.

Setelah berziarah, di mobil menuju rumah Pak Prasetyo, Riris masih sibuk ngusap-ngusap matanya. “Duh, Dil, masih berasa haru banget,” katanya, suaranya agak serak.

Fadil ngegenggam tangannya erat. “Iya, ya? Aku juga. Rasanya kayak ayah Hadi beneran ngrestuin kita.”

Riris ketawa kecil. “Lebay banget sih, kamu.” Tapi ada senyum puas di wajahnya. 

“Tapi bener juga sih, rasanya lega banget. Kayak beban berat di pundakku ilang.”

“Udah nggak usah mikirin beban itu lagi, ya,” kata Fadil, suaranya lembut. “Aku ada di sini buat kamu.”

Riris menyandarkan kepalanya di bahu Fadil. “Makasih, Dil. Aku… aku masih nggak percaya kamu seserius ini sama aku.”

Fadil tersenyum. “Serius banget, kok. Dari dulu juga serius. Cuma … aku takut salah langkah aja.”

“Salah langkah gimana?” Riris penasaran. Dia sedikit menoleh ke Fadil.

Fadil jujur. “Takut kamu belum siap, takut masih ada bayangan masa lalu yang ngeganggu. Aku nggak mau bikin kamu sakit hati lagi.”

Riris mengangkat wajahnya, dia menatap Fadil. “Aku… aku tau kamu sayang banget sama aku. Dan aku juga… aku juga udah mulai buka hatiku sepenuhnya buat kamu.”

“Beneran?”  

SepwaL Suka Mempelajari hal baru, Menulis, dan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan Dunia Teknologi

Belum ada Komentar untuk "Part 24 Hasil dari Penantian"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel