Part 23 Menunggu Kamu

Riris terlihat begitu khawatir dengan Fadil hingga dia menangis karena hal itu.

“Aku khawatir banget pas nggak bisa hubungi kamu.”

“Maaf, Ris. Aku sibuk banget sama pelatihan. Aku juga nggak bisa ngakses internet. Aku baru bisa ngabarin kamu sekarang,” jelas Fadil. 

“Gimana pelatihanmu? Seru nggak?” tanya Riris, mencoba mengalihkan perhatiannya dari rasa khawatir yang masih menghantuinya. 

Menunggu

“Seru banget, Ris. Banyak hal baru yang aku pelajari. Tapi, aku kangen banget sama kamu,” jawab Fadil, matanya menatap Riris dengan penuh kasih sayang. 

“Aku juga kangen banget sama kamu, Dil,” jawab Riris, matanya berkaca-kaca. “Aku nggak tahu harus ngomong apa. Aku senang kamu udah balik.” 

Riris dan Fadil berbincang panjang lebar tentang apa yang terjadi selama mereka berpisah. Riris menceritakan tentang pernikahan Dani dan Luna, dan tentang perasaannya yang masih terluka. Fadil mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan dukungan kepada Riris. 

“Ris, aku tahu kamu masih sedih. Tapi kamu juga harus bahagia,” kata Fadil dengan suara lembut. 

Riris terdiam sejenak, matanya menatap Fadil dengan penuh keraguan. Dia masih merasa bingung. Dia masih mencintai Dani, tetapi dia juga merasa nyaman berada di dekat Fadil. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. 

“Makasih ya, Dil. Aku senang kamu udah kembali,” kata Riris, matanya berkaca-kaca. 

Fadil tersenyum, matanya menatap Riris dengan penuh kasih sayang. “Aku juga senang sudah bisa kembali, Ris. Aku bakal selalu ada buat kamu.” 

Riris dan Fadil berpelukan erat, merasakan kehangatan yang telah lama dirindukan. 

Sepulang sekolah, Fadil mengajak Riris ke kafe langganan mereka. Kafe itu memiliki suasana yang tenang dan nyaman, jauh dari hiruk pikuk kota. Aroma kopi yang baru diseduh tercium semerbak di udara, bercampur dengan aroma kayu manis dan vanila dari kue-kue yang dipajang di etalase. Lampu-lampu gantung berwarna kuning lembut menerangi ruangan, menciptakan suasana hangat dan intim. Musik jazz mengalun lembut di latar belakang, menambah nuansa romantis.

Fadil sigap menarik kursi untuk Riris, dan dengan lembut. Tindakan kecil, tapi penuh perhatian. 

Riris sangat menyukai suasana kafe ini. Ia merasa tenang dan nyaman di sini, jauh dari kekacauan dan tekanan kehidupan. Fadil memesan latte, sementara Riris memilih cappuccino. Mereka duduk di meja dekat jendela, menikmati pemandangan jalanan yang ramai di luar. Sambil sesap kopi, mereka mengobrol, berbagi cerita tentang hari mereka.

Saat mereka asyik mengobrol, tiba-tiba seorang perempuan cantik menyapa mereka. “Hai Riris! Nggak nyangka ketemu kamu di sini,” sapa perempuan itu ramah. Ia memiliki senyum manis dan mata yang bersinar.

Riris tampak terkejut sebentar, lalu tersenyum lebar. “Siska! Kok kamu ada di sini?”

Fadil mengerutkan kening. Ia belum pernah melihat perempuan ini sebelumnya. Riris memperkenalkan mereka berdua.

“Fadil, ini Siska, temenku. Siska, ini Fadil, temenku juga,” kata Riris sambil tersenyum.

Siska mengulurkan tangannya kepada Fadil. “Senang berkenalan, Fadil,” katanya sambil tersenyum.

“Senang juga ketemu kamu, Siska,” jawab Fadil, agak canggung karena ia merasa seperti orang ketiga di antara dua teman dekat.

“Kalian lagi ngapain?” tanya Siska, lalu duduk bergabung di meja mereka.

“Lagi ngobrol biasa aja kok,” jawab Riris. “Kebetulan banget ketemu kamu di sini.”

“Iya nih, lagi ada urusan sama temen,” kata Siska. “Eh, ngomong-ngomong, kalian udah lama kenal ya?” tanyanya, menatap Fadil dan Riris bergantian.

“Udah lama banget,” jawab Riris sambil tersenyum. Ada sedikit rona merah di pipinya.

Fadil hanya mengangguk singkat, matanya sesekali melirik Riris. Ia merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan antara Riris dan dirinya.

Siska memperhatikan interaksi mereka berdua, tersenyum simpul. Ia menangkap sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan di antara mereka. “Wah, serunya! Kalian cocok banget,” gumam Siska pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

 Saat mereka mengobrol, Siska berbisik kepada Riris, suaranya hampir tak terdengar.

“Ris, lihat Fadil. Perhatian banget, ya? Cocok banget sama kamu. Kalian … nikah aja gimana?” bisik Siska, sambil menahan tawa.

Riris hanya merona, pipinya memerah. Ia memang merasakan perhatian Fadil, tapi ia belum siap memikirkan hal sejauh itu. Namun, melihat perhatian Fadil, dan mendengar bisikan Siska, sebuah senyum bahagia terkembang di bibirnya. Ia merasa sangat nyaman dan aman bersama Fadil.

Fadil, yang tak mendengar bisikan Siska, tetap fokus memperhatikan Riris, memastikan ia nyaman dan menikmati makan siang mereka. Ia sesekali melirik Riris, tersenyum lembut. Ia tahu, ia harus menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya..

Obrolan mereka berlanjut dengan ringan, membahas hal-hal seputar pekerjaan, hobi, dan rencana liburan. Fadil memperhatikan Riris dengan penuh perhatian, sesekali menyela obrolan Riris dan Siska untuk menambahkan komentar atau pertanyaan. 

Mereka bertiga tengah asyik mengobrol, Fadil sesekali melirik Riris, tersenyum simpul, sementara Riris tampak menikmati perhatian Fadil. Tiba-tiba, seorang perempuan datang menghampiri meja mereka. Ia tampak sedikit terburu-buru, dengan rambut yang sedikit berantakan.

“Siska! Maaf banget ya, telat banget,” ucap perempuan itu, sambil sedikit membungkuk meminta maaf. Ia menyapa Riris dan Fadil sekilas, lalu langsung menatap Siska.

“Ga pa-pa kok, Vina.” tanya Siska.

“Oh, iya. Sorry ya, kami duluan. Ada urusan penting banget yang harus dibicarakan sekarang. Kita lanjut ngobrol lain kali aja,” kata Siska, meminta maaf pada Riris dan Fadil.

“Iya, nggak apa-apa kok, Sis,” jawab Riris.

Vina, perempuan yang baru datang, tampak sedikit gelisah. “Ayo, Sis, kita ke meja sebelah sana aja. Aku butuh ngomong banyak hal.”

Siska mengangguk dan meminta maaf lagi pada Riris dan Fadil sebelum ia dan Vina beranjak ke meja yang lebih sepi di pojok kafe. Riris dan Fadil menyaksikan kepergian mereka, lalu kembali fokus satu sama lain. Kepergian Siska memberi mereka kesempatan untuk lebih dekat dan intim. Fadil meraih tangan Riris di bawah meja, memberikan sedikit tekanan sebagai isyarat dukungan. Riris hanya tersenyum, dan menggenggam tangan Fadil balik. 

Keheningan di antara mereka terasa nyaman dan dipenuhi oleh perasaan yang tersirat. Suasana yang tadinya ramai bertiga, kini menjadi lebih intim hanya berdua.

“Kamu dah lama kenal Siska?” tanya Fadil.

“Lumayan, waktu kamu nggak ada yang nemenin aku y, Siska.” Riris menjelaskan.

“Terus Arif?” 

“Dia dah jarang hubungi aku, mungkin udah nyerah,” jawab Riris datar kemudian menyeruput kopinya.

“Nyerah? Maksudnya?” Fadil terlihat begitu penasaran.

“Dia kan sempet nyatain cinta sama aku,” jawab Riris lagi.

“Nembak kamu? Kamu nolak?” 

“Orang aku nggak suka, masa aku terima,” balas Riris lagi.

“Apa kamu masih ngarepin Dani? Dia kan udah nikah,” ucap Fadil mengingatkan kemudian dia menyeruput latte-nya.

“Aku nungguin kamu.”

“Hah?!”

SepwaL Suka Mempelajari hal baru, Menulis, dan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan Dunia Teknologi

Belum ada Komentar untuk " Part 23 Menunggu Kamu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel