Part 22 Kamu Kembali
Riris kembali ke rutinitasnya sebagai guru. Dia merasa lebih tenang saat berada di sekolah dan bersama anak-anak didiknya. Kecerian dan kepolosan anak-anak membuat Riris merasa sedikit lebih baik. Dia merasa bahwa mengajar anak-anak adalah cara terbaik untuk melupakan kesedihannya.
“Bu Riris, kok muka Bu pucat? Nggak enak badan?” tanya salah satu muridnya, seorang anak laki-laki bernama Bagas. Riris tersenyum tipis, “Nggak apa-apa, Bagas. Ibu cuma kurang tidur.”
Namun, saat Riris kembali ke rumah Prasetyo, ayahnya, suasana hatinya kembali suram. Dia merasa kesepian dan hampa. Dia masih sering memikirkan Dani dan merasa kecewa karena Dani telah mengkhianati cintanya.
“Ris, kamu kenapa? Kok diem terus?” tanya Prasetyo, melihat Riris duduk termenung di ruang tamu. “Ayah tahu kamu lagi sedih, tapi kamu harus kuat. Kamu masih muda, masih banyak kesempatan untuk bahagia.”
Riris hanya menggeleng, matanya berkaca-kaca. “Ayah, aku nggak tahu. Aku masih belum bisa melupakan Dani. Aku merasa seperti kehilangan segalanya.”
Prasetyo, yang melihat kesedihan putrinya, merasa iba. Dia ingin membantu Riris untuk melupakan Dani dan menemukan kebahagiaan baru.
Suatu hari, Prasetyo mendekati Riris dan mengajaknya untuk keluar.
“Ris, ayah ingin mengajakmu bertemu dengan seseorang. Dia adalah anak teman ayah. Ayah merasa bahwa dia bisa membantumu untuk melupakan semua yang terjadi,” kata Prasetyo, nadanya penuh harap.
Riris merasa ragu. Dia masih belum siap untuk membuka hatinya untuk orang baru. Dia merasa takut untuk terluka lagi.
“Ayah, aku tidak tahu apakah aku siap untuk bertemu orang baru. Aku masih merasa kesepian dan sulit untuk percaya pada orang lain,” jawab Riris dengan suara pelan.
Prasetyo mengangguk, memahami perasaan putrinya. “Ayah mengerti, Nak. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Anak teman ayah ini sangat baik dan ramah. Siapa tahu, mengenal orang baru bisa membantumu merasa lebih baik.”
Riris berpikir sejenak, mencoba membuka hatinya untuk kemungkinan baru. “Baiklah, Ayah. Aku akan mencobanya. Tapi tolong jangan berharap terlalu banyak.”
Prasetyo tersenyum lembut. “Tidak ada tekanan, Nak. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu.”
“Oke, Ayah. Aku ikut,” jawab Riris, meskipun hatinya masih ragu.
Riris dan Prasetyo pun berangkat menuju tempat pertemuan. Riris masih merasa ragu, tetapi dia berharap bahwa pertemuan ini bisa membantunya untuk menemukan kebahagiaan baru.
Riris dan Prasetyo tiba di sebuah kafe yang nyaman. Prasetyo memperkenalkan Riris dengan seorang perempuan muda bernama Siska. Siska adalah anak perempuan dari sahabat Prasetyo, seorang pengusaha muda yang ramah dan energik.
“Ris, ini Siska. Anaknya Pak Budi, teman ayah. Siska, ini Riris, putri saya,” kata Prasetyo memperkenalkan mereka.
Riris dan Siska pun saling berjabat tangan. Siska tersenyum hangat, “Senang bertemu denganmu, Riris. Ayahku sering cerita tentangmu.”
Riris membalas senyuman Siska, meskipun hatinya masih merasa ragu. “Senang bertemu denganmu juga, Siska.”
Mereka bertiga pun duduk di meja dan mulai berbincang. Siska berusaha untuk membuat Riris merasa nyaman dengan menceritakan berbagai pengalamannya. Riris pun sedikit demi sedikit mulai membuka diri.
“Ris, kamu jangan sedih terus. Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan dengan kesedihan,” kata Siska. “Kamu harus mencoba untuk melupakan semua yang terjadi dan memulai hidup baru.”
Riris mengangguk pelan, tetapi dia masih merasa sulit untuk melupakan Dani. “Aku tahu, Siska. Tapi aku masih merasa sangat terluka.”
“Kamu harus mencoba untuk membuka hati untuk orang baru. Siapa tahu, kamu bisa menemukan kebahagiaan baru,” kata Siska.
Riris terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Siska. Dia tidak yakin apakah dia siap untuk membuka hatinya untuk orang baru. Dia masih merasa sakit hati dan sulit untuk mempercayai orang lain.
“Aku akan mencoba, Sis,” jawab Riris dengan suara pelan.
Berbulan-bulan berlalu, Riris mencoba untuk membuka hatinya untuk orang baru. Dia menghabiskan waktu bersama Siska, tetapi dia masih merasa sulit untuk melupakan Dani. Riris juga teringat Fadil, sahabatnya yang sedang pelatihan di luar kota. Dia ingin menghubungi Fadil, tetapi nomor Fadil tidak bisa dihubungi.
“Fadil, kamu di mana sih? Kok nggak bisa dihubungi?” gumam Riris, sambil mencoba menghubungi Fadil untuk kesekian kalinya. ”Kenapa sih nomornya nggak aktif?”
Riris merasa khawatir. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Fadil. Dia mencoba untuk menghubungi Fadil melalui media sosial, tetapi tetap tidak ada jawaban. Riris merasa semakin cemas.
Ketidakpastian tentang keberadaan Fadil membuat Riris semakin murung. Dia merasa kesepian dan tidak bersemangat untuk melakukan apa pun.
“Ris, kamu kenapa? Kok diem terus? Kamu lagi mikirin Dani lagi ya?” tanya Siska, yang melihat Riris termenung di taman.
“Bukan, aku mikirin temenku, Fadil,” jawab Riris pelan.
“Fadil? Siapa dia?” tanya Siska penasaran.
Riris mengangguk pelan. “Iya, sahabatku. Aku khawatir sama dia. Nomornya nggak bisa dihubungi.”
“Kamu tenang aja, Ris. Mungkin Fadil lagi sibuk. Nanti juga dia pasti menghubungi kamu,” kata Siska, berusaha menenangkan Riris.
Riris mencoba untuk tenang, tetapi dia masih merasa khawatir. Ketidakpastian tentang keberadaan Fadil membuatnya semakin ketus kepada semua orang. Dia merasa mudah tersinggung dan marah.
“Ris, kamu kenapa sih? Kok marah-marah terus? Kamu lagi nggak enak badan?” tanya Prasetyo, yang melihat Riris membentak pembantunya.
“Ayah, aku nggak apa-apa,” jawab Riris dengan ketus. “Cuma lagi nggak mood aja.”
Prasetyo merasa iba melihat Riris yang semakin murung. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu putrinya. Dia merasa bahwa Riris membutuhkan waktu untuk menyembuhkan lukanya.
“Ris, kamu harus mencoba untuk tenang. Kamu tidak boleh membiarkan kesedihan menguasai hidupmu,” kata Prasetyo dengan lembut.
Riris hanya mengangguk pelan, tetapi dia masih merasa sulit untuk tenang. Dia merasa terjebak dalam lingkaran kesedihan dan ketidakpastian. Dia tidak tahu kapan dia bisa melupakan Dani dan menemukan kebahagiaan baru.
Enam bulan berlalu, Riris masih terjebak dalam kesedihan dan ketidakpastian. Dia masih sering memikirkan Dani, dan rasa kecewa atas pengkhianatan Dani masih menghantuinya. Ketidakpastian tentang keberadaan Fadil juga menambah beban di hatinya.
Suatu pagi, saat Riris keluar dari kelas dan menuju ruang guru, pintu ruangan terbuka dan Riris masuk. Di sana kursi yang biasa dia duduki sudah ada Fadil dengan senyuman yang begitu menawan.
“Ris! Aku kembali!” seru Fadil, matanya berbinar melihat Riris.
Riris tertegun, matanya membulat sempurna. “Fadil! Kamu sudah pulang?”
Riris langsung berdiri dan berlari menghampiri Fadil. Mereka berpelukan erat, merasakan kehangatan yang telah lama dirindukan.
“Aku kangen banget sama kamu, Ris,” bisik Fadil, suaranya bergetar.
“Aku juga kangen banget sama kamu, Dil,” jawab Riris, air matanya mulai mengalir.
“Kenapa kamu nggak ngabarin aku?”
Belum ada Komentar untuk " Part 22 Kamu Kembali"
Posting Komentar